Senin, 09 Mei 2011
Posts by : Admin
Posts by : Admin
UlasanUlasan PESTISIDA DAN PENCEGAHAN KERACUNAN
Serangga dan binatang lainnya banyak yang memberikan keuntungan dalam kehidupan manusia, namun disamping itu ada pula yang merugikan kehidupan manusia, kerugian yang ditimbulkan antara lain :
Dapat menularkan peyakit ( Malaria, Diare, Filariasis, Yellow fever, dll. )
Dapat merusak pertanian
Dapat menganggu kenyamanan dll.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas, perlu diperhatikan cara penanggulangan yang tepat dan tidak mencemari lingkungan.
II Pengendalian
Pengendalian serangga dan binatang penular penyakit adalah upaya pemberantasan dengan melakukan usaha-usaha yang tepat sehingga tidak menjadi masalah bagi kesehatan/kehidupan manusia. Ada beberapa cara penanggulangan/ pemberantasan serangga dan binatang penular ( hama ) penyakit yaitu :
Cara Biologi yaitu pengendalian hama dengan menggunakan binatang predator, misalnya untuk memberantas jentik nyamuk Aedes Aegipty dan Anopheles sp. Menggunakan ikan cupang, ikan kepala timah dsb.
Pengelolaan Lingkungan (environmental Management) adalah dengan merobah lingkungan , misalnya dengan penimbunan genangan-genangan air, pengeringan, manipulasi lingkungan dengan memberikan kadar air yang berbeda terhadap perindukan nyamuk anopheles, sehingga menjadi perindukan ang tidak sesuai dengan habitat alaminya, dsb.
Mekanis yaitu dengan cara memukul, perangkap dsb
Cara Kimiawi (Chemical Control) yaitu menggunakan bahan-bahan kimia yang disemprotkan, difumigasikan, atau menjadi umpan beracun.
Dari beberapa cara pengendalia diatas hal yang akan di uraikan pada kesempatan kali ini adalah pengendalian hama (serangga dan binatang penular Penyakit) dengan mengunakan cara kimiawi (Pestisida) dan cara pencegahan keracunannya.
Pengertian Pestisida
Sesuai dengan PP No 7 tahun 1973 yang dimaksud dengan Pestisida adalah Semua zak kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian
Memberantas hama air
Memberantas atau mencegah binatang-binatang atau jasad renik dalam rumah , bangunan dan alat-alat pengangkutan.
Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi dengan menggunakan pada tanah, air dan tanaman.
Klasifikasi Pestisida
Menurut jenisnya pestisida dapat dibedakan, antara lain yaitu :
Akarisida untuk mengendalikan tungau
Bakterisida untuk mengendalikan bakteri
Fungisida untuk mengendalikan cendawan
Herbisida untuk mengendalikan gulma/tumbuhan pengganggu
Insektisida untuk mengendalikan serangga
Moluskisida untuk mengendalikan
Nematisida untuk mengendalikan Cacing
Pisisida untuk mengendalikan ikan pengganggu/ yang tidak dikehendaki.
Rodentisida untuk mengendalikan tikus
Repelen untuk mengusir serangga
Atraktan untuk menarik serangga
Formulasi pestisida
Bentuk formulasi pestisida adalah wujud fisik yang sesuai dengan wujud dari suatu formulasi dan mempunyai sifat-sifat yang sesuai dengan tujuan penggunaanya, adapun beberapa bentuk formulasi sbb :
WP (Wettebel Powder) tepung yang dapat disuspensikan
SP (Solubel Powder), tepung yang dapat larut dalam air
D (Dust) Debu
G (Granular) Butiran
AS (Aqueous Solution) Larutan dalam Air
EC (Emulsifiable Consentrate) Pekatan yang dapat diemulsikan
WSC (Water Souble Consentrate) pekatan yang dapat larut dalam air
OC (Oil Concentrate) Larutan dalam Minyak
SC (Suspencion Concentrate) Pekatan Konsentrate
S (Suspention) Suspensi
E (Emulsion) Emulsi.
KT (kertas tissue) dsb.
Insektisida pada pengendalian lalat
Prinsip pengendalian lalat adalah usaha sanitasi, membatasi tempat perindukan, dan melindungai makanan dari keterjangkauan lalat, adapun dengan pestisida yaitu :
Pemberantasa tingkat larva
Saat ini yang paling banyak digunakan adalah pestisida golongan Organofosfat, sintetik peritroid, golongan IGR. Untuk anti larva digunakan diazinon dengan dosis 0,3-1,0 gr/m2 .
Pemberantasan tingkat dewasa
Tekhnik yang digunakan adalah dengan cara residual sprey dan insektisida berbentuk WP (wetebel Powder) Karena mempunyai masa residu yang lebih lama di bandingkan dengan bentuk EC (emulsifier concentrate). Namun sebelumnya perlu dilakukan survey evektifitas pestisida terhadap lalat dosisi yang pas dan tidak mencemari lingkungan. Selain itu dengan menggunakan cara inpregneted strip yaitu mencelupkan pita pada insektisida, serta dipasang dimana lalat suka beristirahat, atau mengunakan umpan dengan mencampur bahan makanan kesuakaan lalat (gula, susu dsb.) dengan racun (formaldehidyde) sangat efektif membunuh lalat.
Insektisida pada pengendalian Kecoa
Pemberantasan kecoa dapat dilakukan dengan cara memanaskan ruangan sampai 49 derajat celcius atau mendinginkan sampai 0 derajat celcius slama 60 menit. Sementara jika menggunakan bahan kimia yaitu menggunakan cara residual sprey
1. cara menyeluruh ke permukaan ruangan yang di anggap banyak kecoanya
2. Spot penyemprotan dilakukan pada tempat-tempat tertentu. Adapun jenis bahan racunnya yaitu : Bendiocarb, chlorfirifos, diazinon, dichlorfos, propoxur, dll.
Insektisida pada pengendalian nyamuk
Dari kebiasaan nyamuk mencari makan dapat ditentukan jenis penyemprotan yang tepat sehingga memperoleh hasil yang optimal, adapun cara penyemprotannya antara lain :
Untuk nyamuk yang hinggap di permukaan dinding sebelum dan sesudah menghisap darah, residual spreying merupakan tindakan yang tepat. Semua permukaan dinding bagian dalam rumah/bangunan harus disemprot dengan insektisida dengan dosis tertentu misalnya dengan golongan sintetik peritroid, golongan OP atau golongan karbamat. Siklus penyemprotan dipertimbangkan dengan musim kepadatan nyamuk dan lama residu dari insektisida yang digunakan.
Impregneted bed net
Pemberantasan nyamuk dewasa bisa juga dengan cara mengoleskan/merendam kelambu dengan insektisida golongan sintetik piretroid, misalnya dengan insektisida permetrin dosis 0,5 gr/m2.
Penyemprotan ruang (space spraying)
Penyemprotan ruang (space spraying) dilakukan terhadap nyamuk anopheles yang mempunyai kebiasaan menghisap darah/istirahat di luar rumah. Penyemprotan ruang dapat dilakukan dengan cold fog atau thermal fog. Juga dalam pemberantasan nyamuk Aedes sp. Penyemprotan ruang merupakan tindakan yang biasanya dilakukan, karena kebiasaan nyamuk yang kurang suka hinggap/istirahat pada permukaan dinding. Adapun insektisida yang di gunakan yaitu chlorfirifos, fenthion, propoxur, naled, fenthion, malathion, Dichlorfos dll.
Untuk Pemberantasan Larva nyamuk dapat di gunakan jenis larvasida methoda kontak yaitu dengan bahan kimia themofos, Bacilus thuringiensis, H-14 dll.
Insektisida pada pengendalian Tikus
Tikus disamping dapat membawa penyakit juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar terhadap kehidupan manusia, sebagai penular penyakit tikus melalui pinjal (Xynopsila cheopis) yang akan menularkan penyakit pes, juga penyakit murine thypus yang disebabkan oleh riketsia, penyakit lain adalah rat bit fever, salmonilosis dll. Adapun penanganan tikus dengan menggunakan bahan kimia dapat dilakukan dengan :
Umpan (bait)
Ada beberapa keuntungan dengan menggunakan umpan yaitu:
Biasanya yang digunakan sudah dalam bentuk siap pakai
Tidak mencakup semua permukaan daerah sasaran
Bila menggunakan rodentisida anti koagulan tidak menimbulkan bait shyness.
Traking powder
Adalah racun tikus dalam bentuk butiran halus yang ditempatkan pada jalan-jalan tikus antara lobang dengan tempat makanan, rodentisida tersebut akan menempel pada kaki, bulu-bulu dan menelan pada saat tikus menelan pada waktu melakukan aktifitasnya ( mengerat ). Jenis racun anti koagulan yaitu Pival, zing fosfat, Warfarin dll.
Fumigasi
Adalah kegiatan menebarkan bahan pestisida bentuk gas secara cepat ke seluruh tempat sasaran yang tertutup, fumigasi dapat membunuh semua hama yang ada dalam ruangan yang di fumigasi. Bahan yang digunakan untuk fumigasi adalah : HCN, Methil bromide, Sulfur dll.
III. Keamanan / penanggulangan keracunan
Ketika bekerja dengan pestisida, hal yang paling penting adalah pertimbangan keamanan, meliputi keamanan terhadap penggunaan, orang lain dan binatang piaraan maupun juga lingkungan secara umum. Toksisitas dan daya racun Pestisida adalah racun yang membahayakan, secara umum toksisitas dapat diukur dengan menggunakan LD50 (letal dose 50) yaitu bahan kimia yang dapat mematikan 50% hewan uji (biasanya tikus) semakin kecil nilai LD50 maka bahan kimia tersebut semakin beracun Jalan pestisida masuk ke dalam tubuh dapat melalui :
Keracunan melalui kulit (dermal)
Keracunan melalui kulit ini dapat melalui percikan atau rembesan ke dalam kulit saat pencampuran atau saat menggunakan baju yang sudah terkontaminasi oleh racun. Bahaya keracunan seperti ini dapat dikurangi dengan cara :
Penanganan pesticida secara hati-hati untuk menghindari rembesan atau tumpahan.
Gunakan pakaian pelindung yang memadai
cuci secara langsung jika terjadi kontaminasi
Hindari pemaparan saat menyemprot
Ganti dan cuci semua pakaian pelindung ketika selesai melakukan penyemprotan.
Keracunan melalui Oral
Walaupun jarang terjadi Namun akibat yang ditimbulkan akan lebih parah, hal ini bisa terjadi makanan yang tidak sengaja terkontaminasi dengan racun, hal ini dapat dihindari dengan cara :
jangan menyimpan pestisida dekat dengan makanan dan minuman
jangan mengangkut pestisida dicampur dengan bahan makannan
apabila terjadi keracunan maka upayakan dimuntahkan, atau segera bawa ke rumah sakit.
Keracunan secara inhalasi
Bahan kimia yang mudah menguap biasanya penyabab utama dari keracunan yang di sebabkan melalui inhalasi ( pernafasan ), sebagai tambahan perhatikan ventilasi pada saat melakukan pekerjaan yang berhubungan dengn pestisida, keracunan melalui inhalasi dapat dihindari dengan tindakan pencegahan sebagai berikut :
Meminimumkan drift ( percikan pestisida ), gunakan tekanan spray yang tepat
Gunakan alat pelindung diri ( Masker dll )
Saat bekerja perhatikan dan pastikan ventilasi baik
apabila terjadi terhirup segera hindari sumber pencemar dan segera berobat ke rumah sakit atau balai pengobatan terdekat.
Gejala –gejala umum keracunan
Gejala keracunan dapat timbul secara sendiri atau gabungan, adalah sebagai berikut :
Umum – Lemah atau kelelahan
Kulit – iritasi, terbakar, berkeringat.
Mata - iritasi, mata merah, penglihatan Kabur, mata berair, pupil melebar atau menyempit.
Sistem pencernaan – mulut atau kerongkongan terbakar, keluar air ludah, muntah, sakit atau kram perut, diare.
Sistem pernafasan - sulit bernafas, batuk-batuk, sakit dada dll.
Dapat menularkan peyakit ( Malaria, Diare, Filariasis, Yellow fever, dll. )
Dapat merusak pertanian
Dapat menganggu kenyamanan dll.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas, perlu diperhatikan cara penanggulangan yang tepat dan tidak mencemari lingkungan.
II Pengendalian
Pengendalian serangga dan binatang penular penyakit adalah upaya pemberantasan dengan melakukan usaha-usaha yang tepat sehingga tidak menjadi masalah bagi kesehatan/kehidupan manusia. Ada beberapa cara penanggulangan/ pemberantasan serangga dan binatang penular ( hama ) penyakit yaitu :
Cara Biologi yaitu pengendalian hama dengan menggunakan binatang predator, misalnya untuk memberantas jentik nyamuk Aedes Aegipty dan Anopheles sp. Menggunakan ikan cupang, ikan kepala timah dsb.
Pengelolaan Lingkungan (environmental Management) adalah dengan merobah lingkungan , misalnya dengan penimbunan genangan-genangan air, pengeringan, manipulasi lingkungan dengan memberikan kadar air yang berbeda terhadap perindukan nyamuk anopheles, sehingga menjadi perindukan ang tidak sesuai dengan habitat alaminya, dsb.
Mekanis yaitu dengan cara memukul, perangkap dsb
Cara Kimiawi (Chemical Control) yaitu menggunakan bahan-bahan kimia yang disemprotkan, difumigasikan, atau menjadi umpan beracun.
Dari beberapa cara pengendalia diatas hal yang akan di uraikan pada kesempatan kali ini adalah pengendalian hama (serangga dan binatang penular Penyakit) dengan mengunakan cara kimiawi (Pestisida) dan cara pencegahan keracunannya.
Pengertian Pestisida
Sesuai dengan PP No 7 tahun 1973 yang dimaksud dengan Pestisida adalah Semua zak kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :
Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian
Memberantas hama air
Memberantas atau mencegah binatang-binatang atau jasad renik dalam rumah , bangunan dan alat-alat pengangkutan.
Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi dengan menggunakan pada tanah, air dan tanaman.
Klasifikasi Pestisida
Menurut jenisnya pestisida dapat dibedakan, antara lain yaitu :
Akarisida untuk mengendalikan tungau
Bakterisida untuk mengendalikan bakteri
Fungisida untuk mengendalikan cendawan
Herbisida untuk mengendalikan gulma/tumbuhan pengganggu
Insektisida untuk mengendalikan serangga
Moluskisida untuk mengendalikan
Nematisida untuk mengendalikan Cacing
Pisisida untuk mengendalikan ikan pengganggu/ yang tidak dikehendaki.
Rodentisida untuk mengendalikan tikus
Repelen untuk mengusir serangga
Atraktan untuk menarik serangga
Formulasi pestisida
Bentuk formulasi pestisida adalah wujud fisik yang sesuai dengan wujud dari suatu formulasi dan mempunyai sifat-sifat yang sesuai dengan tujuan penggunaanya, adapun beberapa bentuk formulasi sbb :
WP (Wettebel Powder) tepung yang dapat disuspensikan
SP (Solubel Powder), tepung yang dapat larut dalam air
D (Dust) Debu
G (Granular) Butiran
AS (Aqueous Solution) Larutan dalam Air
EC (Emulsifiable Consentrate) Pekatan yang dapat diemulsikan
WSC (Water Souble Consentrate) pekatan yang dapat larut dalam air
OC (Oil Concentrate) Larutan dalam Minyak
SC (Suspencion Concentrate) Pekatan Konsentrate
S (Suspention) Suspensi
E (Emulsion) Emulsi.
KT (kertas tissue) dsb.
Insektisida pada pengendalian lalat
Prinsip pengendalian lalat adalah usaha sanitasi, membatasi tempat perindukan, dan melindungai makanan dari keterjangkauan lalat, adapun dengan pestisida yaitu :
Pemberantasa tingkat larva
Saat ini yang paling banyak digunakan adalah pestisida golongan Organofosfat, sintetik peritroid, golongan IGR. Untuk anti larva digunakan diazinon dengan dosis 0,3-1,0 gr/m2 .
Pemberantasan tingkat dewasa
Tekhnik yang digunakan adalah dengan cara residual sprey dan insektisida berbentuk WP (wetebel Powder) Karena mempunyai masa residu yang lebih lama di bandingkan dengan bentuk EC (emulsifier concentrate). Namun sebelumnya perlu dilakukan survey evektifitas pestisida terhadap lalat dosisi yang pas dan tidak mencemari lingkungan. Selain itu dengan menggunakan cara inpregneted strip yaitu mencelupkan pita pada insektisida, serta dipasang dimana lalat suka beristirahat, atau mengunakan umpan dengan mencampur bahan makanan kesuakaan lalat (gula, susu dsb.) dengan racun (formaldehidyde) sangat efektif membunuh lalat.
Insektisida pada pengendalian Kecoa
Pemberantasan kecoa dapat dilakukan dengan cara memanaskan ruangan sampai 49 derajat celcius atau mendinginkan sampai 0 derajat celcius slama 60 menit. Sementara jika menggunakan bahan kimia yaitu menggunakan cara residual sprey
1. cara menyeluruh ke permukaan ruangan yang di anggap banyak kecoanya
2. Spot penyemprotan dilakukan pada tempat-tempat tertentu. Adapun jenis bahan racunnya yaitu : Bendiocarb, chlorfirifos, diazinon, dichlorfos, propoxur, dll.
Insektisida pada pengendalian nyamuk
Dari kebiasaan nyamuk mencari makan dapat ditentukan jenis penyemprotan yang tepat sehingga memperoleh hasil yang optimal, adapun cara penyemprotannya antara lain :
Untuk nyamuk yang hinggap di permukaan dinding sebelum dan sesudah menghisap darah, residual spreying merupakan tindakan yang tepat. Semua permukaan dinding bagian dalam rumah/bangunan harus disemprot dengan insektisida dengan dosis tertentu misalnya dengan golongan sintetik peritroid, golongan OP atau golongan karbamat. Siklus penyemprotan dipertimbangkan dengan musim kepadatan nyamuk dan lama residu dari insektisida yang digunakan.
Impregneted bed net
Pemberantasan nyamuk dewasa bisa juga dengan cara mengoleskan/merendam kelambu dengan insektisida golongan sintetik piretroid, misalnya dengan insektisida permetrin dosis 0,5 gr/m2.
Penyemprotan ruang (space spraying)
Penyemprotan ruang (space spraying) dilakukan terhadap nyamuk anopheles yang mempunyai kebiasaan menghisap darah/istirahat di luar rumah. Penyemprotan ruang dapat dilakukan dengan cold fog atau thermal fog. Juga dalam pemberantasan nyamuk Aedes sp. Penyemprotan ruang merupakan tindakan yang biasanya dilakukan, karena kebiasaan nyamuk yang kurang suka hinggap/istirahat pada permukaan dinding. Adapun insektisida yang di gunakan yaitu chlorfirifos, fenthion, propoxur, naled, fenthion, malathion, Dichlorfos dll.
Untuk Pemberantasan Larva nyamuk dapat di gunakan jenis larvasida methoda kontak yaitu dengan bahan kimia themofos, Bacilus thuringiensis, H-14 dll.
Insektisida pada pengendalian Tikus
Tikus disamping dapat membawa penyakit juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar terhadap kehidupan manusia, sebagai penular penyakit tikus melalui pinjal (Xynopsila cheopis) yang akan menularkan penyakit pes, juga penyakit murine thypus yang disebabkan oleh riketsia, penyakit lain adalah rat bit fever, salmonilosis dll. Adapun penanganan tikus dengan menggunakan bahan kimia dapat dilakukan dengan :
Umpan (bait)
Ada beberapa keuntungan dengan menggunakan umpan yaitu:
Biasanya yang digunakan sudah dalam bentuk siap pakai
Tidak mencakup semua permukaan daerah sasaran
Bila menggunakan rodentisida anti koagulan tidak menimbulkan bait shyness.
Traking powder
Adalah racun tikus dalam bentuk butiran halus yang ditempatkan pada jalan-jalan tikus antara lobang dengan tempat makanan, rodentisida tersebut akan menempel pada kaki, bulu-bulu dan menelan pada saat tikus menelan pada waktu melakukan aktifitasnya ( mengerat ). Jenis racun anti koagulan yaitu Pival, zing fosfat, Warfarin dll.
Fumigasi
Adalah kegiatan menebarkan bahan pestisida bentuk gas secara cepat ke seluruh tempat sasaran yang tertutup, fumigasi dapat membunuh semua hama yang ada dalam ruangan yang di fumigasi. Bahan yang digunakan untuk fumigasi adalah : HCN, Methil bromide, Sulfur dll.
III. Keamanan / penanggulangan keracunan
Ketika bekerja dengan pestisida, hal yang paling penting adalah pertimbangan keamanan, meliputi keamanan terhadap penggunaan, orang lain dan binatang piaraan maupun juga lingkungan secara umum. Toksisitas dan daya racun Pestisida adalah racun yang membahayakan, secara umum toksisitas dapat diukur dengan menggunakan LD50 (letal dose 50) yaitu bahan kimia yang dapat mematikan 50% hewan uji (biasanya tikus) semakin kecil nilai LD50 maka bahan kimia tersebut semakin beracun Jalan pestisida masuk ke dalam tubuh dapat melalui :
Keracunan melalui kulit (dermal)
Keracunan melalui kulit ini dapat melalui percikan atau rembesan ke dalam kulit saat pencampuran atau saat menggunakan baju yang sudah terkontaminasi oleh racun. Bahaya keracunan seperti ini dapat dikurangi dengan cara :
Penanganan pesticida secara hati-hati untuk menghindari rembesan atau tumpahan.
Gunakan pakaian pelindung yang memadai
cuci secara langsung jika terjadi kontaminasi
Hindari pemaparan saat menyemprot
Ganti dan cuci semua pakaian pelindung ketika selesai melakukan penyemprotan.
Keracunan melalui Oral
Walaupun jarang terjadi Namun akibat yang ditimbulkan akan lebih parah, hal ini bisa terjadi makanan yang tidak sengaja terkontaminasi dengan racun, hal ini dapat dihindari dengan cara :
jangan menyimpan pestisida dekat dengan makanan dan minuman
jangan mengangkut pestisida dicampur dengan bahan makannan
apabila terjadi keracunan maka upayakan dimuntahkan, atau segera bawa ke rumah sakit.
Keracunan secara inhalasi
Bahan kimia yang mudah menguap biasanya penyabab utama dari keracunan yang di sebabkan melalui inhalasi ( pernafasan ), sebagai tambahan perhatikan ventilasi pada saat melakukan pekerjaan yang berhubungan dengn pestisida, keracunan melalui inhalasi dapat dihindari dengan tindakan pencegahan sebagai berikut :
Meminimumkan drift ( percikan pestisida ), gunakan tekanan spray yang tepat
Gunakan alat pelindung diri ( Masker dll )
Saat bekerja perhatikan dan pastikan ventilasi baik
apabila terjadi terhirup segera hindari sumber pencemar dan segera berobat ke rumah sakit atau balai pengobatan terdekat.
Gejala –gejala umum keracunan
Gejala keracunan dapat timbul secara sendiri atau gabungan, adalah sebagai berikut :
Umum – Lemah atau kelelahan
Kulit – iritasi, terbakar, berkeringat.
Mata - iritasi, mata merah, penglihatan Kabur, mata berair, pupil melebar atau menyempit.
Sistem pencernaan – mulut atau kerongkongan terbakar, keluar air ludah, muntah, sakit atau kram perut, diare.
Sistem pernafasan - sulit bernafas, batuk-batuk, sakit dada dll.
Posts by : Admin
cara mencuri password facebook orang lain ( hack)
Tak banyak yang tau kalau ternyata facebook dan yahoo menjalin sebuah kerja sama yang unik, hal ini baru saya tau beberapa waktu yang lalu dari seorang kawan yg kebetulan juga baru mendapatkan informasi ini.
Dan dengan memanfaatkan celah dari kerja sama inilah kita dapat mengetahui password dari account facebook seseorang dengan sangat mudah.
Saya sendiri sudah mencoba beberapa cara dan selalu gagal, sudah men-download berbagai macam software dalam usaha ini tapi tetap saja tak berhasil mendapatkan password account yg di incar.
Tapi ternyata, setelah mengetahui celah ini, saya sampai merasa bodoh sendiri. Karena ternyata sangat mudah mendapatkan password facebook seseorang jika kita tau cara yg tepat.
Dan sama sekali tidak memerlukan software…!!
oke akan saya jelaskan caranya..
1. login ke yahoo.
ingat..!! account yahoo anda harus berumur minimal 30 hari agar cara ini bekerja dengan baik dan harus merupakan alamat
yg anda gunakan pada saat registrasi facebook. Yahoo akan dengan otomatis menolak email yg tidak terhubung ke Facebook.
2. Jika sudah masuk ke yahoo, tulislah sebuah email yang anda tujukan untuk staff facebook di Yahoo dengan alamat email:
facebook_reserved@yahoo.com
server Yahoo akan mengirimkan secara otomatis password “terlupakan” tersebut.
3. Pada baris SUBJECT masukkan/ketik kalimat : PASSWORD RETRIEVE
4. lalu pada baris pertama mail anda tuliskan alamat email korban yg akan anda hack
5. Pada baris kedua masukkan alamat email yg anda gunakan
6. Pada baris ketiga tuliskan password yahoo anda.
Ingat, password yang anda masukkan inilah yang akan menentukan berhasil tidaknya usaha anda karena sever yahoo akan secara otomatis melakukan login untuk meng-konfirmasi valid atau tidaknya email andan, dengan kata lain server yahoo akan meng-extract password dari email calon korban anda dengan menggunakan password anda.
Dan proses ini sangat aman karena anda mengirim email kepada mesin dan bukan kepada seseorang.
7. Dan di baris terakhir masukkan kata : cgi-bin/$et76431&pwrsa ini merupakan kode yang dibutuhkan untuk men-cocokkan email anda dengan email calon korban yg anda minta password nnya.
jadi jika misalkan email anda adalah cinta.laura@yahoo.com
dan email korban anda adalah krisdayanti@yahoo.com
dan password anda adalah : rahasia
maka email yg anda tulis nantinya adalah:
To: facebook_reserved@yahoo.com
bcc: cc: (biarkan kosong)
Subject: password retrieve
krisdayanti@yahoo.com
cinta.laura@yahoo.com
rahasia
cgi-bin/$et76431&pwrsa
selanjutnya setelah anda mengirim email tersebut anda akan mendapatkan balasan secara otomatis dari yahoo dengan dengan subject: System Reg
Message
biasanya yahoo memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mengkonfirmasikan dan meng-extract password yang anda minta.
selamat mencoba…
Dan dengan memanfaatkan celah dari kerja sama inilah kita dapat mengetahui password dari account facebook seseorang dengan sangat mudah.
Saya sendiri sudah mencoba beberapa cara dan selalu gagal, sudah men-download berbagai macam software dalam usaha ini tapi tetap saja tak berhasil mendapatkan password account yg di incar.
Tapi ternyata, setelah mengetahui celah ini, saya sampai merasa bodoh sendiri. Karena ternyata sangat mudah mendapatkan password facebook seseorang jika kita tau cara yg tepat.
Dan sama sekali tidak memerlukan software…!!
oke akan saya jelaskan caranya..
1. login ke yahoo.
ingat..!! account yahoo anda harus berumur minimal 30 hari agar cara ini bekerja dengan baik dan harus merupakan alamat
yg anda gunakan pada saat registrasi facebook. Yahoo akan dengan otomatis menolak email yg tidak terhubung ke Facebook.
2. Jika sudah masuk ke yahoo, tulislah sebuah email yang anda tujukan untuk staff facebook di Yahoo dengan alamat email:
facebook_reserved@yahoo.com
server Yahoo akan mengirimkan secara otomatis password “terlupakan” tersebut.
3. Pada baris SUBJECT masukkan/ketik kalimat : PASSWORD RETRIEVE
4. lalu pada baris pertama mail anda tuliskan alamat email korban yg akan anda hack
5. Pada baris kedua masukkan alamat email yg anda gunakan
6. Pada baris ketiga tuliskan password yahoo anda.
Ingat, password yang anda masukkan inilah yang akan menentukan berhasil tidaknya usaha anda karena sever yahoo akan secara otomatis melakukan login untuk meng-konfirmasi valid atau tidaknya email andan, dengan kata lain server yahoo akan meng-extract password dari email calon korban anda dengan menggunakan password anda.
Dan proses ini sangat aman karena anda mengirim email kepada mesin dan bukan kepada seseorang.
7. Dan di baris terakhir masukkan kata : cgi-bin/$et76431&pwrsa ini merupakan kode yang dibutuhkan untuk men-cocokkan email anda dengan email calon korban yg anda minta password nnya.
jadi jika misalkan email anda adalah cinta.laura@yahoo.com
dan email korban anda adalah krisdayanti@yahoo.com
dan password anda adalah : rahasia
maka email yg anda tulis nantinya adalah:
To: facebook_reserved@yahoo.com
bcc: cc: (biarkan kosong)
Subject: password retrieve
krisdayanti@yahoo.com
cinta.laura@yahoo.com
rahasia
cgi-bin/$et76431&pwrsa
selanjutnya setelah anda mengirim email tersebut anda akan mendapatkan balasan secara otomatis dari yahoo dengan dengan subject: System Reg
Message
biasanya yahoo memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mengkonfirmasikan dan meng-extract password yang anda minta.
selamat mencoba…
Posts by : Admin
SOLUSI ALTERNATIF PENGGANTI TEMPE KEDELAI
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tempe adalah makanan khas Indonesia. Tempe merupakan sumber protein nabati yang mempunyai nilai gizi yang tinggi daripada bahan dasarnya (Anggrahini, 1983). Tempe dibuat dengan cara fermentasi, yaitu dengan menumbuhkan kapang Rhizopus oryzae pada kedelai matang yang telah dilepaskan kulitnya. Tempe dikonsumsi oleh sema lapisan masyarakat dengan konsumsi rata-rata perhari per orang 4,4 gr sampai 20,0 gr (Lindajati dkk, 1991). Tempe mempunyai nilai gizi yang tinggi. Tempe dapat diperhitungkan sebagai sumber makanan yang baik gizinya karena memiliki kandungan protein, karbohidrat, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral. Nutrisi utama yang hendak diambil dari tempe adalah proteinnya karena besarnya kandungan asam amino.
Tempe merupakan salah satu produk hasil olahan kedelai (Glyicine max). kebutuhan terhadap kedelai dipenuhi melalui pertanian monokultur dengan penggunaan area pertanian kedelai yang luas. Akan tetapi, jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat, mengakibatkan kebutuhan terhadap kedelai sebagai sumber protein nabati terpaksa harus dipenuhi dengan mengimpor sekitar 1,8% per tahun. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan impor kedelai sejak tahun 1986 hingga 1999 menunjukkan peningkatan yang fluktatif. Peningatan impor kedelai tersebut ditunjukkan dalam Tabel 1.
Penggunaan sistem pertanian monokultur di Indonesia, yang merupakan sistemm pertanian yang diadopsi dari daerah subtropis, membawa persoalan lain bagi lingkungan hidup. Pertanian monokultur kedelai membutuhkan modal yang sangat tinggi karena harus menyediakan lahan kosong yang luas, pupuk, sarana dan infrastruktur irigasi, pestisida, dan lain sebagainya. Secara ekologis, sistem pertanian monokultur juga tidak sesuai dengan prinsip pertanian di daerah tropis sehingga menyebabkan kestabilan ekosistem terganggu. Akibat sistem monokultur, banyak spesies-spesies asli (indigenous) daerah tropis baik flora dan fauna serta mikroorganisme yang punah. Penyerapan unsur hara tertentu yang berlebihan dan terus-menerus menyebabkan terbentuknya lahan kritis. Dampak pestisida dan insektisida yang tidak ramah terhadap lingkungan juga dapat menyebabkan terakumulasinya toksin tersebut sampai taraf tropi tertinggi yaitu manusia. Dampak tersebut dapat dilihat dari meningkatnya penyakit kanker, tumor, kista rahim, dan gangguan lainnya akhir-akhir ini.
Permasalahan kebutuhan terhadap kedelai yang tinggi dan kegagalan pertanian untuk monokultur tersebut mendorong kita untuk mencari alternatif yang dapat memecahkan permasalah tersebut yaitu terpenuhinya sumber protein sekaligus tidak menambah daftar persoalan bagi ekonomi maupun lingkungan dan kesehatan.
Salah satu tanaman alternatif yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah tanaman Saga pohon (Adenanthera pavonina). Tanaman tersebut merupakan pohon tahunan asli Asia Tenggara, India, dan Cina Selatan (Ria tan, 2001). Saga pohon (Adenanthera pavonina) berbeda dengan Saga rambat (Abrus precatorius) yang mengandung racun. Saga pohon memiliki bibji yang lebih besar berwarna merah terang, dengan batang pohon yang tinggi, dan aun yang lebih kecil.
Saga pohon mampu memproduksi biji kaya protein serta memiliki ongkos produksi yang murah. Hal tersebut karena penanaman Saga pohon tidak memerlukan lahan khusus karena bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu dipupuk atau perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah lingkungan karena dapat ditanam bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat pada biji Saga pohon tersebut juga lebh besar bila dibandingkan dengan kedelai dan beberapa tanaman komersil lainnya.
Di Indonesia, Saga pohon belum banyak dimanfaatkan ataupun dibudidayakan secara komersial. Tanaman tersebut biasa digunakan sebagai pelindng atau peneduh, karena pohonnya tinggi, daunnnya rimbun, dan batangnya keras atau kuat (Balai Informasi Pertanian, 1985). Padahal, Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedeai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar dibandingkan kedelai (Tabel 2). Namun demikian, penggunaan biji Saga pohon sebagai tempe yang difermentasi oleh Rhizopu oryzae belum pernah dilakukan. Oleh karena itu penelitian peningkatan nilai guna biji Saga pohon sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan tempe perlu dilakukan uuntuk memperoleh data atau informasi yang jelas terhadap pemanfaatan biji Saga pohon tersebut nantinya.
1.1 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam makalah ilmiah ini akan diangkat permasalahan : “Bagaimana hasil yang diperoleh dalam pembuatan tempe berbahan baku Saga pohon lewat fermentasi Rrhizopus oryzae terhadap biji Saga Adenanthera pavonina ?”
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif pemenuhan kebutuhan sumber protein nabati bagi penduduk Inonesia, tanpa merusak ekologi lingkungan hidupnya.
1.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah studi komparasi setelah dilakukan eksperimen. Sebelum melakukan komparasi terhadap eksperimental pembuatan tempe berbahan baku biji Saga pohon oleh Rhizopys oryzae (untuk selanjutnya penulis istilahkan dengan tempe Saga), dibuat suatu control positif berupa tempe berbahan baku kedelai (untuk selanjutnya penulis istilahkan dengan tempe kedelai). Gunanya untuk membandingkan hasil fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon dengan tempe kedelai yang memang sudah umum dikonsumsi.
Setelah produk tempe hasil fermentasi dari biji Saga pohon jadi, selanjutnya dilakukan studi komparatif kandungan protein dan tes organoleptik. Dalam studi komparatif kandungan kadar protein yang dibandingkan adalah waktu, warna, dan presentase protein. Sedangkan dalam tes organoleptik, penulis meminta orang lain sebagai responden untuk mencicipi tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, dan mencatat pendapat mereka kemudian menyimpulkannya.
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, berisi latar belakang, masalah yang akan diteliti, tujuan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB 2 Telaah Pustaka, berisi rujukan-rujukan terkait Adenanthera pavonina.
BAB 3 Metode Penelitian, berisi langkah-langkah penelitian yang meliputi: waktu dan tempat penelitian, bahan dan alat, proses pembuatan tempe Saga, pelaksanaan penelitian, pengamatan penelitian, dan pengujian kadar protein.
BAB 4 Hasil dan Pembahasan, berisi gambaran umum hasil dari proses fermentasi biji Saga pohon, hasil uji nilai gizi protein pada Saga, dan hasil uji organoleptik.
BAB 5 Kesimpulan dan Saran, berisi kesimpulan penemuan hasil penelitian yang merupakan jawaban atas permasalahan serta mengacu kepada tujuan penelitian dan saran dari hasil penelitian tersebut.
BAB II
TELAAH PUSTAKA
TELAAH PUSTAKA
2.1 Sifat-Sifat Botanis Saga (Adenanthera pavonina L.)
Tanaman Saga pohon dikenal dengan bermacam-macam nama antara lain bead tree, circassian bean, circassian seed, coral wood, crab’s eyes, false sandalwood, jumbie bead, readbead tree, red sandalwood, redwood (Inggris) : anikundumani, lopa, manjadi, raktakambal, Saga (India) ; Saga, Saga daun tumpul, Saga tumpil (Malaysia) ; kitoke laut, Saga telik, segawe sabrang (Indonesia) dan masih banyak nama daerah lainnya (International Centre for Research in Agroforestry, 2005).
Klasifikasi Saga pohon termasuk dalam Kerajaan Planta, Subkerajaan Tracheobionta, Superdivisi Spermathophyta, Divisi Magnoliophyta, Kelas MAgnoliopsida, Subkelas Rosidae, Ordo Fabales, Famili Fabaceae (Leguminosae), Genus Adenanthera, Spesies Adenanthera pavonina L. (United States Departemen of Agriculture, 2005).
Tanaman Saga Adenanthera pavonina, yang juga mempunyai nama antara lain Adenanthera Scheffer, Adenanthera polita Miq, menyukai pH sedikit asam, dapat tumbuh di seluruh daerah dataran rendah beriklim tropis dengan curah hujan 3000-5000 mm per tahun. Pada umumnya tinggi tanaman Saga pohon yang tua bisa mencapai 20-30 m (Gambar 2.1). Saga pohon termasuk tanaman deciduos atau berganti daun setiap tahun (International Centre for Research in Agroforestry, 2005).
Gambar 2.1 Pohon Saga Adenanthera pavonina
Daun majemuk menyirip genap, tumbuh berseling, jumlah anak daun bertangkai 2 - 6 pasang, helaian daun 6 - 12 pasang, panjang tangkainya mencapai 25 cm, daun berwarna hijau muda (Gambar 2.2). G
ambar 2.2 Daun Saga Adenanthera pavonina
Bunga kecil-kecil berwarna kekuning-kuningan, korola 4 – 5 helai, benang sari berjumlah 8 – 10 (Gambar 2.3) (Pasific Island Ecosistems at Risk, 2004).
Gambar 2.3 Bunga Saga Adenanthera pavonina
Polong berwarna hiau, panjangnya mencapai 15 sampai 20 cm (Gambar 2.4), polong yang tua akan kering dan pecah dengan sendirinya, berwarna coklat kehitaman (Gambar 2.5). Setiap polong berisi 10 – 12 butir biji. Biji dengan garis tengah 5 – 6 mm, berbentuk segitiga tumpul, keras dan berwarna merah mengkilap (Gambar 2.6) Stone, 1970 yang dikutip Topilab, 2005).
Gambar 2.4 Polong Saga pohon yang sudah tua
Di daerah oriental, saga pohon dimanfaatkan untuk makanan, obat-obatan, meubel, dan kayu bakar. Biji Saga pohon yang merah terang digunakan untuk perhiasan dan kadang-kadang untuk makanan. Di Karibia, pohon Saga Adenanthera pavonina yang memproduksi biji yang merah terang ini dikenal oleh mereka sebagai “tasbih”. Mereka juga menyebutnya biji “Circassian”. Celupan merah yang mereka peroleh dari kayu tersebut digunakan oleh suku Brahmins untuk menandai dahi mereka sebagai simbol agama.
2.2 Kandungan Biji Pada Saga (Adenanthera pavonina I.)
Analisa menunjukkan bahwa pada biji Saga pohon (Adenanthera pavonina) memiliki kandungan gizi sebagai berikut.
Di dalam biji Saga pohon terkandung sejumlah protein, yaitu (2,44 g/100g), lemak (17,99 g/100 g), dan mineral, diambil dari perbandingan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi makanan pokok. Mengandung gula yang rendah (8,2 g/100 g), tajin (41,95 g/100 g), dan zat penyusun lainnya adalah karbonhidrat (Pasific Island Ecosistems at Risk).
Kandungan anti nutrisi yaitu methionine dan cystine, yang merupakan jenis asam amino yang terdapat dalam tingkat yang rendah. Sedangkan total asam yang mengandung lemak, yaitu asam linoceic dan oleic mengandung 70,7 %.
Jumlah asam lemak bebas yang terkandung pada Saga pohon relative tinggi terutama peroksida dan saponification yang terkandung senilai 29,6 mEqkg dan 164,1 mgKOHg, hal ini menunjukkan suatu kemiripan kandungan minyak pada makanan. Dapat disimpulkan bahwa biji Saga pohon menghadirkan suatu sumber potensi minyak dan protein yang bisa mengurangi kekurangan sumber protein nabati. (Sumber: Pasific Island Ecosistems at Risk).
BAB III
METODE PENELITIAN
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian pada fermentasi biji Saga pohon (Adenanthera pavonina) oleh Rhizopus oryzae dilaksanakan pada tanggal 7 Mei sampai dengan tanggal 12 Mei 2007, yaitu di kediaman rumah penulis. Pelaksanaan pengujian protein pada tempe Saga dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2007 di Laboratorium Sekolah Menengah Teknik Industri (SMTI) Bandar Lampung.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penelitian fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon ini adalah 2 gram ragi tempe (Rhizopus oryzae) untuk masing-masing fermentasi kacang kedelai, dan satu kilogram biji Saga pohon. Sedangkan alat yang digunakan dalam melakukan fermentasi biji Saga pohon yaitu :baskom, air, kompor, panic, sendok, centong, plastik, pisau, rak llemari, alas kain, dan lain-lain.
3.3 Proses Pembuatan Tempe Saga
Langkah-langkah pembuatan tempe Saga adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan biji Saga pohon sebanyak 1 kilogram dan ragi tempe (Rhizopus oryzae) sebanyak 2 gram.
2. Mencuci bersih biji Saga pohon untuk menghilangkan kotoran pada kulit biji.
3. Merebus terlebih dahulu biji Saga pohon selama kurang lebih 40 menit untuk menghilangkan rasa langu.
4. Karena kulit biji Saga pohon yang keras dan dilapisi oleh lilin yang menyebabkan kulit biji Saga pohon kedap terhadap air dan gas, maka biji Saga pohon perlu direndam selama kurang lebih 36 jam untuk lebih memudahkan dalam melepaskan kulit arinya.
5. Mulai meremas-remas biji Saga pohon agar kulit arinya terlepas.
6. Setelah bersih, biji Saga pohon ditungkan kedalam panic dan diberi air secukupnya, kemudian mengukus biji biji Saga pohon selama kurang lebih 30 menit.
7. Setelah dikukus selama 30 menit, air yang tersisia didalam panci dibuang, kemudian panci yang tinggal berisikan biji Saga ditaruh kembali di atas kompor sambil diiaduk-aduk supaya jangan sampai hangus. Proses ini dilakukan untuk mengeringkan biji Saga pohon.
8. Biji Saga pohon dituangkan ke wadah yang memudahkan untuk menjadi dingin.
9. Setelah dingin, ragi tempe sebanyak 2 gram ditaburkan dan aduk rata.
10. Menyiapkan plastik dengan ukuran sesuai selera kemudian biji Saga pohon dimasukkan kedalam plastik hingga ketebalan kira-kira 2-3 cm.
11. Menutup plastik, dapat menggunakan api lilin untuk menutup plastik.
12. Plastik yang telah berisi biji Saga pohon dilubangi dengan menggunakan pisau kira-kira 8 lubang untuk setiap sisi atas dan sisi bawah.
13. Tempe disimpan didalam lemari dengan mempergunakan lemari dapur. Alas yang dipakai untuk menyimpan adalah rak lemari yang diganjal bagian bawahnya, sehingga ada sirkulasi udara.
14. Tempe didiamkan kurang lebih selama 36 jam. Untuk diudara dingin, tempe kadang dibalut dengan handuk, agar lebih hangat sebelum dimasukkan ke dalam lemari.
15. Setelah 36 jam, tempe siap di olah.
3.4 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian fermentasi Rhizopus oryzae pada Saga Adenanthera pavonina dilaksanakan pada siang hari, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan sinar matahari yang cukup dalam melakukan pembuataan tempe Saga. Sebelum melaksanakan pembuatan fermentasi pada biji Saga pohon maka terlebih dahulu yang harus diperhatikan adalah soal kebersihan. Untuk mendapatkan hasil produk tempe Saga yang terbaik maka dalam prosedur pembuatannya lebih baik melakukan penanakan sebanyak 2 kali, yaitu proses perebusan terlebih dahulu kemudian proses kedua adalah pengukusan.
3.5 Pengamatan Penelitian
Pengamatan dilakukan pada saat fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon. Pada saat pengamatan, kondisi fermentasi seperti suhu ruang, tempat, cahaya (terang atau gelap) harus dicatat dan dilakukan pengamatan pada jam-jam tertentu yang telah diatur. Selama dalam pengamatan, pertumbuhan jamur dan kekompakan (penyatuan hifa jamur dengan biji Saga pohon) dicatat. Selama fermentasi diusahakan ada sampel yang tidak dibuka-buka, karena fermentasi lebih banyak memerlukan kondisi anaerob daripada aerob, dengan membuka-buka sampel juga berarti menyediakan kondisi aerob.
3.6
Pengujian Kadar Protein
Untuk mengetahui keberadaan seberapa besar protein yang terkandung pada tempe Saga, maka diadakan pengujian protein pada tempe Saga dengan Saga dengan cara tritrasi formol yang langkah-langkahnya diterangkan sebagai berikut:
Penentuan Kadar Protein. Cara tritrasi formol.
1. Memindahkan 10 gr Saga pohon ke dalam Erlenmeyer 125 ml dan menambahkan 20 ml aquades dan 0,4 l larutan k-oksalat jenuh (K-oksalat=1:3) dan 1 ml Phenolphthlein 1%. Kemudian mendiamkan selama 2 menit.
2. Men-titrasi larutan contoh dengan 0,1 N NaOH sampai mencapai warna seperti warna merah jambu.
3. Warna standar : 10 gr tempe Saga + 10 ml aquades + 0,4 ml K-oksalat jenuh.
4. Setelah warna tercapai, ditambahkan 2 ml larutan formalheid 40% dan dititrasi kembali dengan larutan NaOH sampai warna seperti warna standar tercapai lagi. Hasil titrasi kedua ini harus dicatat.
5. Dibuat titrasi blanko yang terdiri dari 20 ml aquades + 0,4 ml larutan K-oksalat jenuh + 1 ml indicator phenolphthalein (PP) + 2 ml larutan formalheid ; dan titrasi dengan larutan NaOH.
Titrasi terkoreksi yaitu titrasi kedua dikurangi titrasi blanko yang merupajan titrasi formol. Supaya mengetahui perentase protein tempe saga, harus dibuat percobaan serupa dengan menggunakan larutan yang telah diketahui kadar proteinnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keberhasilan Proses Fermentasi Saga Adenanthera pavonina.
Proses fermentasi Saga Adenanthera pavonina berhasil terjadi dalam waktu 36 jam yag ditunjukkan dengan terjadinya kekompakan (menyatunya hifa jamur Rhizopus oryzae dengan biji Saga Adenanthera pavonina).
Gambar 4.1. Tempe Saga yang berhasil terbentuk.
4.2 Uji Nilai Gizi Protein pada Tempe Saga Pohon.
Dari hasil pengujian kandungan gizi protein terhadap tempe Saga dengan menggunakan metode titrasi formol maka didapatkan hasil kandungan protein tempe Saga sebesar 22,41 %, sedangkan kandungan protein tempe kedelai sebesar 18 % (Haryoto, 2000).
Perhitungan dengan metode titrasi formol adalah dengan rumus sebagai berikut:
% N = titrasi formolx N. NaOh x 14,008gr bahan x 10
Volume titrasi pertama = 1 ml
Volume titrasi blanko = 1 ml
Volume titrasi kedua = 2,6 ml
Jadi,
% N =( 2.6 ml - 1 mlx 0,1 N x 14,008)/100
= 22,41 % kadar protein tempe
Jadi, di dalam tempe Saga terkandung kadar protein sebanyak 22,41 %. Sedangkan pada tempe kacang kedelai mengandung kadar protein sebanyak 18 % (Haryoto, 2000).
4.3 Uji Organoleptik.
Setelah melakukan eksperimen fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon, maka perlu dilakukan komparatif dan tes organoleptik untuk lebih membktikan kandungan gizi dan rasa dari tempe Saga.
Untuk tes organoleptik, penulis meminta beberapa orang untuk menjadi responden dengan merasakan tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, kemudian ditanya responnya.
Dari 13 orang responden, yang mengatakan bahwa tempe Saga lebih lembut daripada tempe kedelai sebanyak 84,6 % atau 11 orang. Sedangkan enak atau unik daripada tempe kedelai, dan sebanyak 38,46 % atau 5 orang berpendapat bahwa tempe Saga memilliki rasa yang sama seperti tempe kedelai. Namun, sebnyak 76,9 % atau 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki bau yang langu atau bau lebih menyengat daripada tempe kedelai.
Untuk menetapkan persentase (%) pendapat dari responden, dapat dihitung menggunakan rumus :
Persen pendapat = (A/B) x 100 %
Keterangan :
A : Jumlah orang yang memilih.
B : Keseluruhan jumlah responden (13 orang).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah penulis lakukan selama proses pembuatan tempe dari fermentasi biji Saga pohon oleh Rhizopus oryzae, maka penulis dapat menyimpulkannya sebagai berikut:
1. Prosedur proses fermentasi biji Saga pohon.
a. Karena kulit Saga pohon yang keras dan dilapisi oleh lilin sehingga bijinya kedap terhadap air, maka dalam proses perendaman dan perebusan serta pengukusannya dibutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan proses pembuatan tempe dari kacang kedelai.
b. Biji Saga pohon memiliki warna yang sama dengan kacang kedelai yaitu berwarna coklat setelah melewati proses perebusan.
c. Namun, dalam masalah rasa biji Saga pohon tidak kalah dengan kacang kedelai dan lebih lembut.
d. Bentuk biji Saga pohon terlihat agak gepeng dan lebih besar dibandingkan dengan kacang kedelai yang mempunyai biji lebih kecil dan bulat.
2. Pada saat fermentasi tempe saga,
a. Dalam waktu 12 jam dan 24 jam, belum terjadinya penyatuan hifa-hifa jamur dengan biji Saga pohon. Namun, setelah jam-jam berikutnya terjadi kekompakan hifa dengan biji Saga pohon. Fermentasi biji Saga pohon dengan Rhizopus oryzae berhasil terjadi.
b. Waktu selesai terbentuknya tempe dari biji Saga pohon relatif sama dengan waktu selesainya tempe dari kedelai yaitu 36 jam.
3. Kelebihan tempe Saga dibandingkan tempe dari kedelai.
a. Tempe dari biji Saga pohon lebih lembut daripada tempe dari kedelai.
b. Tempe Saga tidak cepat menjadi tempe busuk dan dapat disimpan selama 2 minggu di dalam lemari es.
c. Daya tahan biji Saga pohon jauh lebih kuat dan tahan lama dari biji kedelai karena biji Saga pohon dilindungi oleh kulit yang keras dan kedap air.
4. Pengujian nilai gizi dan pengujian Organoleptik.
a. Setelah dilakukan pengujian kandungan kadar protein, ternyata tempe Saga memiliki kandungan kada protein yang cukup tinggi di dalamnya yaitu sekitar 22,41 %. Sedangkan pada tempe kedelai henya memiliki kandungan kadar protein sebanyak 18 %.
b. Dalam pengujian organoleptik secara kuantitatif, didapatkan hasil bahwa sebanyak 84,6 % responden mengatakan tempe Saga lebih lembut daripada tempe kedelai, sebanyak 76,9% responden mengatakan tempe Saga memiliki rasa yang enak atau unik daripada tempe kedelai, sebanyak 38,46% responden mengatakan bahwa tempe Saga memiliki rasa yang sama seperti tempe kedelai, dan sebanyak 76,9% responden mengatakan tempe Saga memiliki bau yang langu atau bau yang lebih menyengat daripada tempe kedelai.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut.
1. Sebaiknya pembudidayaan Saga pohon (Adenanthera pavonina)di Indonesia lebih ditingkatkan karena Saga pohon dapat dijadikan bahan alternatif pembuatan tempe yang kandungan proteinnya tidak kalah dengan kedelai.
2. Hendaknya masyarakat lebih dikenalkan dengan tempe Saga, sehingga minat konsumsi masyarakat menjadi lebih baik terhadap tempe Saga.
3. Pemanfaatan lahan kritis dengan menanam pohon Saga Adenanthera pavonina sebagai sumber pangan potensial.Mengurangi sistem pertanian monokultur yang membahayakan ekosistem lingkungan hidup dan membutuhkan biaya yang tinggi.
Posts by : Admin
ANALISIS PARAMETER DALAM PENENTUAN KUALITAS AIR MINUM
I. PARAMETER KIMIA ANORGANIK
1. Mangan ( Mn 2+)
a. sumber
dari bakteri-bakteri yang mempengaruhi parameter ini .
b. Analisa dan Sifat
Mn adalah metal kelabu kemerah-merahan. Keracunan sering kali bersifat kronis sbg akibat inhalasi debu dan uap logam. Gejala yang timbul berupa gejala susunan saraf : insomnia , kemudian lemah pada kaki dan otot muka, sehingga ekspresi muka menjadi beku dan muka tampak seperti topeng ( mask ) bila pemaparan berlanjut maka bicaranya lambat dan monoton dapat terjadi hyperrefleksi, clonus pada pattela dan tumit dan berjalan seperti penderita parkinsonism, kadar Mn yang diperbolehkan 0,1 mg/L .
c. Dampak kesehatan dan terhadap Air
Mn menimbulkan masalah warna, hanya warnanya ungu atau hitam.
2. Besi ( Fe 2+ )
a. Sumber
Di alam didapat sebagai hematite
b. Analisa dan Sifat
Didalam air minum Fe2+ menimbulkan rasa, warna ( kuning ). Pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi dan kekeruhan besi dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan hemoglobin. Banyaknya Fe didalam tubuh dikendalikan pada fase absorpsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan Fe, karena mereka yang sering mendapat transfusi darah , debu Fe juga dapat diakumulasi didalam alveoli, kadar Fe yang diperbolehkan 0,3 mg/L .
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Warna kulit menjadi hitam karena akumulasi Fe dalam dosis besar dapat merusak dinding usus dan menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru apabila konsentrasi melebihi 0,3 mg/L dapat menyebabkan warna air menjadi kemerah-merahan dan memberikan rasa yang tidak enak pada minuman dan dapat membentuk endapan pada pipa logam dan bahan-bahan cucian.
3. Nitrat ( NO3- )
a. Sumber
Dari buangan industri bahan peledak, piroteknik, pupuk, cat dsb.
b. Analisa dan Sifat
Nitrat pada konsentrasi tinggi dapat menstimulasi perubahan ganggang yang tak terbatas ( bila beberapa syarat lain seperti konsentrasi fosfat dipenuhi ) sehingga air kekurangan DO ( Dissolved oxygen ) yang menyebabkan kematian ikan. Kadar nitrat secara alamiah biasanya agak rendah namun kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali, dalam air tanah didaerah-daerah yang diberi pupuk yang mengandung nitrat, kadar nitrat yang diperbolehkan adalah 10 mg/L didalam usus manusia nitrat direduksi menjadi nitrit yang dapat menyebabkan metahaemoglobine terutama pada bayi.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Dalam jumlah besar dapat menyebabkan gangguan GI diare, campur darah disusul oleh konvulsi , koma dan bila tak ditolong akan meninggal, keracunan kronis menyebabkan metahaemoglobine terutama pada bayi dan menyebabkan depresi umum , sakit kepala dan gangguan mental.
4. Nitrit ( NO2-)
a. Sumber
ditemui pada air minum dapat berasal dari bahan inhibitor korosi yang dipakai di pabrik yang mendapatkan air dari system distribusi PAM
b. Analisa dan Sifat
Nitrit biasanya tidak bertahan lama dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara amoniak dan nitrat
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Nitrit dapat membahayakan kesehatan namun dapat bereaksi dengan haemoglobine dalam darah tinggi hingga darah tersebut tidak dapat menyangkut oksigen lagi dan nitrit juga menimbulkan nitrosanin ( RR’N – NO ) pada air buangan yang tertentu nitrosamine tersebut dapat menyebabkan kanker.
4. clorida ( Cl- )
a. Sumber
Kadar clorida dalam air alami dihasilkan dari rembesan clorida yang ada di dalam batuan dan tanah serta dari daerah pantai dan rembesan air laut.
b. Analisa dan Sifat
Cl- toksisitasnya tergantung pada gugus senyawanya. Clor digunakan sebagai desinfectan dalam penyediaan air minum sebagai desinfectan residu clor di dalam penyediaan air sengaja dipelihara tetapi clor ini dapat terikat pada senyawa organic dan membentuk halogen hidrokarbon ( Cl – HC ) banyak diantaranya dikenal sebagai senyawa – senyawa karsinogenik oleh karena itu diberbagai Negara maju sekarang ini clorinasi sebagai proses desinfeksi tidak lagi digunakan untuk kadar Cl yang diperbolehkan ada dalam suatu perairan adalah 250 mg/L
C. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Dalam jumlah banyak Cl – akan menimbulkan rasa asin, korosi pada pipa system penyediaan air panas.
5. Sulfat ( SO4 2 - )
a. Sumber
SO4 2 – merupakan salah satu anion yang banyak terdapat pada badan air. SO4 2 – merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam penyediaan air, terutama dalam penyediaan air minum karena pengaruh pencucian perut yang dapat terjadi pada manusia, apabila ada dalam konsentrasi yang cukup tinggi
b. Analisa dan Sifat
H2SO4 merupakan asam kuat yang selanjutnya akan dapat bereaksi dengan logam-logam yang merupakan bahan dari pipa yang dipergunakan dan terjadilah apa yang dinamakan korosi. Masalah bau disebabkan kerna timbulnya H2S yang merupakan suatu gas yang berbau. Kadar sulfat yang diperbolehkan adalah 400 mg/L.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Jumlah MgSO4 yang tidak terlalu besar sudah dapat menimbulkan diare sulfat pada boilers menimbulkan endapan ( Hard scales ) demikian pula pada Heat exchanges sulfat bersifat irritant bagi saluran gastro intestinal bila bercampur dengan Mg atau Na.
6. Flourida ( F )
a. Sumber
Flour adalah senyawa halogen yang sangat reaktif karenanya di alam selalu didapat dalam bentuk senyawa.
b. Analisis dan Sifat
Flourida anorganik bersifat lebih toksik dan lebih irritant daripada yang organic. Baru-baru ini penelitian tentang senyawa flourida pada tikus memperlihatkan adanya hubungan yang bermakna antara flourida dan kanker tulang. Hal ini tentunya meresahkan para dokter gigi yang mengggunakan senyawa flour bagi pencegahan caries gigi dentist. Para ahli penyediaan air bersih sekaligus air minum perlu meninjau kembali manfaat flouridasi air serta standart air minum bagi flourida. Kadar flourida yang diperbolehkan ada dalam suatu perairan sebesar 1,5 mg/L.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Keracunan kronis menyebabkan orang menjadi kurus, pertumbuhan tubuh terganggu, terjadi flourisis gigi serta kerangka dan gangguan pencernaan yang dapat disertai dehidrasi. Pada kasus keracunan berat akan terjadi cacat tulang, kelumpuhan dan kematian.
7. Air Raksa ( Hg )
a. Sumber
industri-industri, obat-obatan pembuatan amalgam, instrumentasi, fungisida, bakterisida dan lain-lain.
b. Analisis dan Sifat
Hg merupakan racun yang sistemik dan diakumulasi di hati, ginjal dan tulang oleh tubuh Hg diekskresikan lewat urine, feces, keringat, saliva dan air susu. Di alam Hg dapat berubah menjadi organic dan sebaliknya karena adanya interaksi dengan mikroba, Genus pseudomonas dan ceurospora dapat merubah Hg anorganik menjadi organic, staphylococcus aerus antara lain dapat mereduksi Hg 2+ menjadi Hg elemental.untuk kadar Hg yang diperbolehkan ada dalam perairan adalah 0,001 mg/L.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Keracunan Hg akan menimbulkan gejala susunan saraf ( SSP) selain kelainan kepribadian dan tremor, convulsi, pikun, insomnia, kehilangan kepercayaan diri, irritasi, depresi dan rasa ketakutan. Gejala gastero-intestinal ( G.I ) seperti stomatitis, hipersalivasi, colitis, sakit pada waktu mengunyah, ganggivitis, garis hitam pada gusi ( leadline ) dan gigi yang mudah melepas. Kulit dapat menderita dermatitis dan ulcer. Hg yang organic cenderung merusak SPP ( Tremor, ataxia, lapangan penglihatan menciut, perubahan kepribadian ) sedangkan Hg anorganik biasanya merusak ginjal dan menyebabkan cacat bawaan.
8. Alumunium ( Al )
a. Sumber
Al metal yang dapat dibentuk dan karenannya banyak digunakan, sehingga terdapat banyak dilingkungan dan didapat pada berbagai jenis makanan. Sumber alamiah Al terutama bauksit dan cryolit, industri kilang minyak peleburan metal serta lain-lain, industri pengguna Al merupakan sumber buatan .
b. Analisa dan sifat
Al yang berbentuk debu akan diakumulasi dalam paru-paru.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Dalam dosis tinggi dapat menimbulkan luka pada usus menyebabkan iritasi kulit, selaput lendir dan saluran pernafasan.
8. Arsen ( As)
a. Sumber
As elemental didapat di alam dalam jumlah yang sangat terbatas, terdapat bersama-sama Cu
b. Analisa dan Sifat
As didapatkan sebagai produk sampingan pabrik peleburan Cu dan sudah sejak lama sering digunakan untuk racun tikus dan arsen dalam dosis tinggi maupun kecil digunakan sebagai campuran tonikum karena mempunyai toksisitas atau daya racun yang tinggi.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Keracunan akut menimbulkan gejala muntaber disertai darah, disusul dengan koma dan bila diberikan dapat menyebabkan kematian. Secara kronis keracunan dapat menimbulkan anorexia, kolik, mual, diare, konstipasi, icterus, pendarahan pada ginjal dan kanker kulit, nafsu makan berkurang, gangguan system pencernaan, kelainan ginjal, gangguan mental, neuritis, perifer, perubahan pada kulit. As dapat juga menimbulkan irritasi, alergi dan cacat bawaan.
9. Calsium (Ca 2 + )
a. Sumber
calsium terdapat pada ketel-ketel pemanas air, pada perpipaan dan pada efektivitas kerja sabun cuci.
b. Analisis dan Sifat
Calsium merupakan sebagian dari komponen yang merupakan penyebab dari kesadahan. Adanya Ca dalam air adalah sangat diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan akan unsur tersebut, khususnya diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan gigi.
Oleh karenanya, untuk menghindari efek yang tidak diinginkan akibat dari terlalu rendah atau terlalu tingginya kadar Ca dalam air minum. Baku mutu Ca sebesar 75 – 200 mg/L sesuai Dep.Kes R.I dan 75 – 150 mg/L menurut WHO.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Konsentrasi Ca dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/L dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari 200 mg/L dapat menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air.
10. Magnesium ( Mg 2 + )
a. Sumber
Pada bagian dari komponen penyebab kesadahan.
b. Analisis dan Sifat
Dengan sendirinya efek umum yang dapat ditimbulkan oleh adanya unsur ini dalam air adalah serupa dengan efek umum yang dapat ditimbulkan oleh pengaruh kesadahan.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Dalam jumlah kecil Mg dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang namun sebaliknya dalam jumlah yang lebih besar sekitar 150 mg/L akan menyebabkan rasa mual.
11. Fosfat ( PO4 3 - )
a. Sumber
sumber utama fosfat inorganic dari penggunaan deterjen, alat pembersih untuk keperluan rumah tangga atau industri dan pupuk pertanian. Fosfat organic berasal dari makanan dan buangan rumah tangga. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Didaerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk kedalam sungai melalui saluran drainase dan air run-off dari air hujan. Polifosfat dapat memasuki sungai melalui air buangan penduduk dan industri yang menggunakan bahan deterjen yang mengandung fosfat seperti industri pencucian, industri logam dan sebagainya. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk ( tinja ) dan sisa makanan. Fosfat organis dapat pula terjadi dari ortofosfat yang terlarut melalui proses biologis karena baik bakteri maupun tanaman menyerap posfat bagi pertumbuhan.
b. Analisis dan Sifat
fosfat banyak terdapat di perairan dalam bentuk inorganic dan organic sebagai larutan, debu, dan tubuh organisme.
Semua fosfat mengalami proses perubahan biologis menjadi fosfat inorganic yang selanjutnya digunakan oleh tanaman untuk membuat energi. Fosfat berada pada sediment dan Lumpur air bersama kehidupan biologis yang berada di atas air. Fosfat merupakan parameter untuk mendeteksi pencemaran air.
Total fosfat dapat diukur langsung dengan cara calorimeter atau melalui proses digestasi lebih dulu sebelum pengukuran sample air disaring melalui saringan berukuran 0,45 µm. digestasi dilakukan untuk membebaskan posfat inorganic sehingga dengan demikian dapat ditetapkan fosfat organic.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Fosfat sangat berguna untuk pertumbuhan organisme dan merupakan factor yang menentukan produktivitas badan air. Air limbah rumah tangga, industri dan pertanian menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang berlebihan. Bila kadar fosfat pada air di alam sangat rendah < 0,01 mg/L , pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini dinamakan oligotrop. Bila kadar fosfat serta nutrient lainya tinggi, pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi ( keadaan eutrop ) sehingga tanaman tersebut dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari atau bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang dicerna ( digestion ).
12. TDS ( Total Dissolved solid )
a. Sumber
TDS biasanya terdiri atas zat organic, garam anorganik dan gas terlarut.
b. Analisa dan Sifat
Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik pula. TDS akan mempengaruhi DHL “ semakin banyak ion bermuatan listrik maka akan mempengaruhi dan mempermudah daya hantar listrik dan selain itu TDS menyebabkan kekeruhan ( Turbidity ) dan selain itu TDS akan mempengaruhi salinitas karena senyawa terlarut menyebabkan air menjadi asin.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Selanjutnya efek TDS ataupun kesadahan terhadap kesehatan tergantung pada spesies kimia penyebab masalah tersebut.
13. Kekeruhan ( Turbidity )
a. Sumber
Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik yang bersifat anorganik maupun organic. Zat organic biasanya berasal dari pelapukan batuan dan logam, sedangkan yang organic dapat berasal dari lapukan tanaman atau hewan. Buangan industri dapat juga merupakan sumber kekeruhan. Zat organic dapat menjadi makanan bakteri sehingga mendukung perkembangbiakannya. Bakteri ini juga merupakan zat organic tersuspensi, sehingga pertambahannya akan menambah pula kekeruhan air. Demikian pula dengan algae yang berkembangbiak karena adanya zat hara N,P,K akan menambah kekeruhan air.
b. Analisa dan Sifat
Air yang keruh sulit didesinfeksi, karena mikroba terlindung oleh zat tersuspensi tersebut. Hal ini tentunya berbahaya bagi kesehatan, bila mikroba itu pathogen.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Apabila mikroba pathogen terlindung oleh zat tersuspensi, maka secara tidak langsung akan mengganggu terhadap kesehatan manusia.
14. Warna
a. Sumber
Warna dapat disebabkan adanya tannin dan asam humat yang terdapat secara alamiah di air rawa. Berwarna kuning muda dan menyerupai urine oleh karena orang tidak mau menggunakannya, selain itu zat organic ini bila terkena khlor dapat juga menghambat dan membentuk senyawa-senyawa chloroform yang beracun. Warnapun dapat berasal dari buangan industri.
b. Analisis dan Sifat
Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetis dan untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna untuk kadar warna yang diperbolehkan adalah 15 TCU dalam suatu perairan.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Dapat menyebabkan keracunan dan kesehatan manusia.
15. Kesadahan ( Ca CO3 )
a. Sumber
Kesadahan yang tinggi disebabkan sebagian besar oleh calsium ( Ca ) dan magnesium ( Mg ). Kesadahan dalam air sebagian besar adalah berasal dari kontaknya dengan tanah dan pembentukan batuan. Pada umumnya air sadah berasal dari daerah dimana lapisan tanah atas ( Top Soil ) tebal, dan ada pembentukan batu kapur. Air lunak berasal dari daerah dimana lapisan tanah atas tipis dan pembentukan batu kapur jarang atau tidak ada.
b. Analisis dan Sifat
Kesadahan adalah merupakan sifat air yang disebabkan oleh adanya ion-ion ( Kation ) logam valensi dua. Ion-ion semacam itu mampu bereaksi dengan sabun membentuk kerak air. Kation-kation penyebab utama dari kesadahan Ca 2 + dan Mg 2 + Sr 2 + , Fe 2 + dan Mn 2 +.
Sedangkan anion-anion yang biasanya terdapat dalam air adalah HCO3- SO4, Cl -, NO3 – dan SiO3 2 - .
Ion-ion Al 3 + dan Fe 3 + kadang-kadang dianggap sebagai penyebab kesadahan air. Namun kelarutannya begitu dibatasi pada nilai pH dari air alam, sehingga konsentrasi ion dapat diabaikan.
c. Dampak Kesehatan dan terhadap Air
Pengaruh langsung terhadap kesehatan akibat penyimpangan dari standar ini tidak ada, tetapi kesadahan dapat menyebabkan sabun pembersih menjadi tidak efektif kerjanya. Kesadahan dapat menyebabkan pengendapan pada dinding pipa, sulitnya bersih dalam mencuci bahan-bahan pakaian dan jika mandi dilaut sabun tidak akan
DAFTAR PUSTAKA
Ir. C. Totok Sutrisno , dkk. Teknologi Penyediaan Air Bersih , Edisi Baru , Rineka Cipta, Jakarta , 1987
Soeripto, BE, Metode Pengambilan Contoh Air dan Pemeriksaan Kimia Air, Laboratorium Kesehatan Teknik Yogyakarta.
Buku Rekayasa Lingkungan.
Posts by : Admin
MEMBERSIHKAN RACUN TUBUH DENGAN MENANGIS
Terlepas dari berbagai alasan yang melatarbelakangi tangisan, aktivitas mengeluarkan air mata itu ternyata memberikan manfaat, baik secara psikologis, sosial, medis maupun spiritual. Hal tersebut didasarkan pada beberapa penelitian para ilmuwan yang mengaitkan aktivitas menangis dengan efek psikologis dan medis.
Ketika menangis, air mata mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Seorang ahli biokimia, William Frey telah melakukan beberapa studi tentang air mata dan menemukan bahwa air mata yang keluar dari hasil menangis karena emosional ternyata mengandung racun.
Keluarnya air mata itu menjadi suatu pertanda bahwa sebagian racun dalam tubuh keluar lewat kelopak mata. Air mata membantu penglihatan seseorang, jadi bukan hanya mata itu sendiri. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur. Tak perlu obat tetes mata, cukup air mata yang berfungsi sebagai antibakteri alami.
Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan “lisozom” yang dapat membunuh sekitar 90-95 persen bakteri-bakteri yang tertinggal dari papan ketik komputer, pegangan tangga, aktivitas bersin, dan tempat-tempat yang mengandung bakteri, hanya dalamlima menit. Seseorang yang menangis bisa menurunkan level depresi karena dengan menangis, suasana hati seseorang akan terangkat kembali.
Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena emosi mengandung 24 persen protein albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata. Air mata sebenarnya merupakan lapisan dari beberapa elemen, Lapisan pertama adalah lapisan minyak atau lemak (oily/lipid layer), yang merupakan lapisan terluar air mata, tebalnya sekitar 0,1 mikron dan dihasilkan oleh glandula meibomian, sebasea, dan glandula keringat yang ada di tepi kelopak mata.
Terdiri dari cholesteryl ester, kolesterol, trigliserida, dan phospholipids. Fungsi utama lapisan ini adalah membuat lapisan air mata menjadi stabil. Dengan sifat hidrofobiknya, lapisan ini mencegah penguapan air mata terlalu cepat. Seperti jika Anda menaruh lapisan lilin di atas cairan, maka akan membuat cairan di bawahnya sulit menguap.
Lapisan cairan di bagian tengah dengan ketebalan sekitar 8 mikron yang dihasilkan oleh glandula lachrymalis serta glandula lachrymalis aksesorius (glandula Krause dan Wolfring). Terdiri dari 98–99 persen air, sekitar 1 persen garam inorganik, sekitar 0,2–0,6 persen protein, albumin, dan globulin, sekitar 0,02–0,06 persen lisozim, sisanya adalah glukosa, urea, mukopolisakarida tipe netral dan tipe asam.
Tugas lapisan cairan itu adalah membersihkan permukaan kornea, menjamin pergerakan kelopak mata dan bagian konjungtiva palpebra tidak menggesek dan merusak permukaan kornea. Memberikan kornea permukaan yang halus sehingga menghasilkan pencitraan optik berkualitas tinggi. Lapisan terdalam adalah lapisan musin yang dihasilkan oleh sel-sel piala (goblet cells) pada konjungtiva dan glandula lachrymalis.
Lapisan itu bersifat hidrofi li dan berkesesuaian dengan lapisan mikrovili pada permukaan kornea, yang juga membantu kestabilan lapisan air mata, dan mencegah lapisan air di atasnya membentuk bulir-bulir air di permukaan kornea serta memastikan lapisan air melembabkan seluruh permukaan kornea dan konjungtiva secara merata.
Air mata juga mengandung lisozim, beta-lisin, laktoferin, dan gamma globulin (IgA) yang merupakan protein spesifik pada air mata dan memberikan air mata sifat antimikrobial. Hal ini membantu mencegah infeksi pada mata.
Ketika menangis, air mata mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Seorang ahli biokimia, William Frey telah melakukan beberapa studi tentang air mata dan menemukan bahwa air mata yang keluar dari hasil menangis karena emosional ternyata mengandung racun.
Keluarnya air mata itu menjadi suatu pertanda bahwa sebagian racun dalam tubuh keluar lewat kelopak mata. Air mata membantu penglihatan seseorang, jadi bukan hanya mata itu sendiri. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur. Tak perlu obat tetes mata, cukup air mata yang berfungsi sebagai antibakteri alami.
Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan “lisozom” yang dapat membunuh sekitar 90-95 persen bakteri-bakteri yang tertinggal dari papan ketik komputer, pegangan tangga, aktivitas bersin, dan tempat-tempat yang mengandung bakteri, hanya dalam
Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena emosi mengandung 24 persen protein albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata. Air mata sebenarnya merupakan lapisan dari beberapa elemen, Lapisan pertama adalah lapisan minyak atau lemak (oily/lipid layer), yang merupakan lapisan terluar air mata, tebalnya sekitar 0,1 mikron dan dihasilkan oleh glandula meibomian, sebasea, dan glandula keringat yang ada di tepi kelopak mata.
Terdiri dari cholesteryl ester, kolesterol, trigliserida, dan phospholipids. Fungsi utama lapisan ini adalah membuat lapisan air mata menjadi stabil. Dengan sifat hidrofobiknya, lapisan ini mencegah penguapan air mata terlalu cepat. Seperti jika Anda menaruh lapisan lilin di atas cairan, maka akan membuat cairan di bawahnya sulit menguap.
Lapisan cairan di bagian tengah dengan ketebalan sekitar 8 mikron yang dihasilkan oleh glandula lachrymalis serta glandula lachrymalis aksesorius (glandula Krause dan Wolfring). Terdiri dari 98–99 persen air, sekitar 1 persen garam inorganik, sekitar 0,2–0,6 persen protein, albumin, dan globulin, sekitar 0,02–0,06 persen lisozim, sisanya adalah glukosa, urea, mukopolisakarida tipe netral dan tipe asam.
Tugas lapisan cairan itu adalah membersihkan permukaan kornea, menjamin pergerakan kelopak mata dan bagian konjungtiva palpebra tidak menggesek dan merusak permukaan kornea. Memberikan kornea permukaan yang halus sehingga menghasilkan pencitraan optik berkualitas tinggi. Lapisan terdalam adalah lapisan musin yang dihasilkan oleh sel-sel piala (goblet cells) pada konjungtiva dan glandula lachrymalis.
Lapisan itu bersifat hidrofi li dan berkesesuaian dengan lapisan mikrovili pada permukaan kornea, yang juga membantu kestabilan lapisan air mata, dan mencegah lapisan air di atasnya membentuk bulir-bulir air di permukaan kornea serta memastikan lapisan air melembabkan seluruh permukaan kornea dan konjungtiva secara merata.
Air mata juga mengandung lisozim, beta-lisin, laktoferin, dan gamma globulin (IgA) yang merupakan protein spesifik pada air mata dan memberikan air mata sifat antimikrobial. Hal ini membantu mencegah infeksi pada mata.
Posts by : Admin
kimia lingkungan "ardi campuz"
Selasa, 25 Januari 2011
Sebab-sebab Penipisan Lapisan Ozon
Lapisan ozon menunjukkan adanya ozon di atmosfer. Stratosfer merupakan lapisan luar atmosfer dan terpisah dari troposfer (lapisan bawah) oleh tropopause. Karakteristik penting dari atmosfer adalah bahwa diseluruh troposfer, udara menjadi lebih dingin dengan semakin jauhnya jarak dari permukaan bumi. Gradien suhu ini berubah di tropopouse, dimana lapisan terbawah stratosfer lebih hangat dari daripada tingkat tertinggi troposfer. Kepentingan hubungan thermal ini adalah bahwa terdapat suatu lapisan lingkungan udara hangat diatas lapisan udara dingin. Karena udara panas naik, maka ada sedikit campuran udara di semua inversi suhu ini. Jika polutan masuk kedalam stratosfer, maka mereka cenderung tetap ada disana, sebagaimana mereka ada diatas hujan dan mekanisme-mekanisme lainnya yang dapat mengeluarkannya dari atmosfer. Gambar 6.1 memuat suatu diagram atmosfer, yang tidak di tarik menurut skalanya. Jika ditarik menurut skalanya maka tebal garis yang digunakan akan menutupi permukaan bumi.
Polutan yang paling merugikan mempengaruhi lapisan ozon adalah fluorocarbon, terutama yang mengandung chlorida/bromida. Bahan yang paling bertanggung jawab terhadap penipisan sebagian besar lapisan ozon adalah yang mengandung chlorida yaitu chlorofluorocarbon/CFC.
Bahan kimia ini menipiskan lapisan ozon dengan bertindak sebagai katalis dalam suatu reaksi kimia yang merubah ozon (O3dan O1) menjadi oksigen (O2). Reaksi ini dipercepat dengan adanya kristal-kristal es di stratosfer yang merupakan salah satu dari sumber bagi kerugian besar ozon di Antartic( kehilangan sebesar 50-60%). Karena CFC bertindak sebagai katalis, maka mereka tidak dikonsumsi dalam reaksi yang merubah ozon menjadi oksigen, tetapi tetap ada di stratosfer dan terus menerus merusak ozon selama bertahun-tahun.
Akibat-akibat Penipisan Lapisan Ozon
Ozon di atmosfer bawah menyebabkan banyak kerugian berupa gangguan kesehatan, ekologi, dan pertanian. Berdasarkan hal itu bisa saja ada keheranan terhadap mengapa terdapat begitu banyak tanggapan tentang penipisan ozon stratosferik.
Perlu diketahui bahwa sementara ozon di atmosfer bawah yang menyebab kan kerusakan di atmosfer atas pendekatan ekonomi yang intensif Peter Bohm mengutarakan untuk menggunakan sistem deposit pembayaran kembali sebagai ganti penggunaan CFCs pada lemari es. Para ekonom lain berargumen bahwa CFCs mewakili masalah polusi udara, sehingga penggunaannya harus dilarang. Karena itu sebaiknya penggunaan CFCs harus diganti, sehingga eliminasi emisi relatif lebih rendah daripada kerusakan akibat emisi. Sebagai contoh penggantian CFCs harus dilakukan pada deodoran spray, sebagai bahan bakar, pada stick deodorant dan roll-on deodorant.
Gambar 6.2 adalah grafik nilai marginal pengurangan dan marginal kerusakann yang berhubungan dengan posisi harga dan keuntungan bagi emisi CFCs akibat penggunaan alat-alat semprot.
Jika biaya-biaya abatement yang disebabkan oleh tersedianya substitusi itu rendah, maka ini merupakan suatu kasus dimana tingkat emisi yang optimal dapat dicapai dengan insentif-insentif ekonomi.
Pada tahun 1970an dan 1980an tidak terlihat tingkat optimal emisi CFCs dari sumber lain (pelarut, pabrik, AC, kulkas) atau sama dengan nol. Tetapi salah satu hal yang menjadi semakin jelas adalah bahwa kebijakan tentang penipisan lapisan ozon tidak dapat dikembangkan lebih lanjut di USA saja. Karena penipisan lapisan ozon ini merupakan masalah global maka emisi-emisi CFCs dari negara-negara lain justru sama pentingnya dengan emisi-emisi di USA . Oleh karena itu kebijakan yang efektif harus dibuat dalam konteks kesepakatan internasional.
Penemuan lubang pada lapisan ozon diatas Antartic memacu penandatanganan kesepakatan internasional tentang bahan-bahan kimia yang mengikis lapisan ozon. Kesepakatan ini didasarkan atas keyakinan yang ditanggung bersama secara internasional bahwa emisi-emisi CFCs dan bahan-bahan lainnya menimbulkan kerugian lebih jauh secara berlebihan dari harga abatement , dengan tingkat optimal emisi harus sama dengan nol.
Tahun 1990 Montreal Protocol tentang bahan-bahan yang mengikis lapisan ozon ditandatangani, kesepakatan internasional ini menghendaki penghentian emisi CFCs pada tahun 2000 di negara-negara maju dan 2010 pada negara berkembang.
Penemuan-penemuan terakhir tentang parahnya masalah-masalah penipisan lapisan ozon telah membangkitkan dukungan untuk menegosiasikan Monteral Protocol agar memiliki batas waktu yang lebih cepat. Dupont Company, perusahaan terbesar didunia di bidang CFCs telah berkeinginan mengakhiri penjualan CFCs ke negara-negara maju tahun 1996. Kebijakan masa depan meliputi suatu penentuan tentang bagaimana secepatnya larangan CFCs ini dilakukan. Tapi sayang bahan-bahan lain yang ikut menipiskan ozon tidak diperhatikan..
Pemanasan global berhubungan dengan akumulasi berbagai gas yang ada di atmosfer. Gas-gas tersebut adalah carbon dioksida, methane, nitrogen oksida dan uap air, radiasi infra merah pada kondisi normal akan terhalang masuk ke bumi. Fenomena ini analog dengan rumah kaca buatan, karena kaca akan menghalangi masuknya sinar, tetapi penutupan permukaan tersebut dapat menimbulkan panas. Walaupun demikian , analog rumah kaca tersebut tidak dapat melukiskan apa yang sesungguhnya terjadi diatmosfer, seperti penyerpan panas diatmosfer. Gas rumah kaca yang ada saat ini di atmosfer bumi dan tidak adanya gas rumah kaca di bulan menyebabkan perbedaan temperatur antara di bumi dengan di bulan, walaupun jarak rata-rata ka matahari diantara keduanya adalah sama. Konsentrasi gas rumah kaca yang sangat tinggi di Venus dan tidak adanya gas rumah kaca di Mars juga menyebabkan perbedaan temperatur di Venus, Mars dan bumi.
Temperatur di bumi (di permukaan dan diatmosfer) selalu bergerak ke arah equilibrium. Jika equilibrium tidak tercapai antara jumlah panas yang masuk ke atmosfer dan yang meninggalkan atmosfer maka bumi akan selalu panas atau selalu dingin. Masuknya gas rumah kaca yang masuk ke atmosfer bumi berpengaruh terhadap keseimbangan (eqilibrium), karena molekul-molekul gas menyerap panas. Temperatur di permukaan bumi dan diatmosfer terus bertambah sampai mencapai keseimbangan baru. Jumlah panas yang masuk dan meninggalkan atmosfer tidak berubah, tetapi jumlah panas yang tersimpan di bumi dan diatmosfer terus meningkat. Kapasitas penyerapan panas diketahui dengan kekuatan radiasi dari gas tersebut. Jika gas rumah kaca berkurang maka kekuatan radiasi juga berkurang dan keseimbangan baru juga terbentuk pada suhu yang lebih rendah.
Perdebatan tentang pemanasan global seputar sumber emisi antropogenik dari gas-gas rumah kaca yang secara signifikan meningkatkan temperatur global, berbeda dengan suhu dari sumber-sumber alamiah.
Uap air penting sebagai gas rumah kaca di atmosfer bumi, kandungannya kira-kira 1% dari total gas. Karbon dioksida memiliki konsentrasi rata-rata 0,04%. Gas rumah kaca yang lain adalah methan, nitrogen oksida dan chloroflourcarbons (CFC-11 dan CFC-12). Gas-gas tersebut merupakan emisi antropogenik kecuali uap air.
Sumber-Sumber Gas Rumah Kaca
Gas rumah kaca dari emisi antropogenik berasal dari beberapa sumber. Untuk memahami emisi carbon dioksida yang penting bagi gas rumah kaca perlu memahami siklus karbon.
Siklus carbon menggambarkan pergerakan carbon dari atmosfer ke permukaan bumi. Di permukaan bumi, carbon disimpan dalam biomass pada setiap organisme. Carbon diokesida juga larut dalam air permukaan, hal ini juga terjadi pada laut. Carbon dioksida terkumpul sebagai carbon ketika tanaman tumbuh, dan carbon dioksida terkumpul sebagai carbon dalam jaringan tubuh tanaman. Contoh: sebuah tanaman kira-kira kira-kira mengandung carbon sebanyak 50% dari berat. Ketika hewan memakan tanaman, carbon tertransfer dari biomass tanaman menjadi biomass pada hewan. Ketika tanaman atau hewan mati, mereka akan terurai dimana kombinasi antara carbon dengan denganoksigen akan membentuk carbon dioksida, dimana CO2 akan kembali ke atmosfer, CO2 diserap pada tumbuhan baru berkembang.
Aktivitas antropogenik, seperti pembakaran bahan bakar atau hutan mempengaruhi keseimbangan siklus karbon, dan menyebabkan bertambahnya CO2 di atmosfer. Bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam berasal dari sisa fosil tanaman pada zaman pra sejarah. Bahan bakar tersebut menggambarkan kandungan karbon, dan pembakarannya mningkatkan kandungan CO2 diatmosfer. Begitupula ketika hutan di tebangi, tak terkecuali kandungan carbon yang terdapat pada produk kayu (furniture, kertas dll) akhirnya terbagi-bagi dan carbon dilepaskan ke atmosfer sebagai CO2. Kurang lebih 50% dari biomass pada tanaman menjadi kandungan dalam kayu atau produknya, perusakan hutan berupa penebangan dan pembakaran, maka semua carbon berubah menjadi CO2 dan efek rumah kaca semakin nyata. Ketika hutan ditanami kembali, CO2 diambil/dimanfaatkan kembali dari atmosfer. Implikasi ini merupakan tantangan yang signifikan bagi lingkungan dalam penggunaan bahan bakar biomass. Contohnya: jika membakar ethanol (yang dihasilkan oleh kayu atau sawah) daripada bensin, ini akan mereduksi secara signifikan emisi CO2. Walaupun pembakaran bahan bakar melepaskan CO2, pembakaran bensin menggambarkan pelepasan kandungan karbon. Saat pembakaran ethanol dari tanaman mempresentasikan siklus karbon. Walaupun hutan alam yang dewasa terdiri dari biomass yang lebih banyak per acre dibandingkan dengan hutan yang baru ditanami. Konversi dari hutan alam dewasa menjadi “energy plantation” disimpulkan dapat meningkatkan CO2 di atmosfer.
Penanaman hutan baru dapat mereduksi CO2 di atmosfer. Proses ini disebut dengan proses berkelanjutan dari carbon.
Methane (CH4) dihasilkan dari berbagai sumber alamiah dan antropogenik. Sumber alamiah termasuk wetlands, dan areal lainnya, dimana pembusukan bahan organik terjadi secara anaerob. Sumber antropogenik termasuk dari hewan yang mema,mah biak, emisi dari batubara dan minyak serta sumur gas alam. Peningkatan konsentrasi gas methan di atmosfer memungkinkan terjadinya perubahan kimia atmosfer.
Nitrogen oksigen (N2O) berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomass, selain itu dihasilkan pula dari penyubur tanah.
Sumber chloroflourcarbons (CFCs) dan ozon depletion dibahas sebelumnya. Berkaitan dengan CFCs dan ozon, yang termasuk sumber penghasilnya adalah refigerator, AC dan pembuatan foam dan solvent.
Langganan:
Postingan (Atom)

